Kamis, 04 Juni 2020

Perempuan dan Internet


Tulisan kali ini bisa dikatakan sebagai penegasan kembali dari apa yang telah disampaikan pada tulisan - tulisan sebelumnya. Namun sedikit ditekankan pada sudut pandang terhadap wanita. Karena mau tidak mau terdapat perbedaan perlakuan dunia internet terhadap kaum wanita yang merupakan mahluk Allah SWT yang istimewa.

Perubahan zaman saat ini yang memasuki era digital dan Revolusi Industri 4.0 membuka banyak peluang dan tantangan bagi semua orang, tak terkecuali kaum perempuan. Tdak sedikit pihak yang memposisikan perempuan sebagai objek. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, kemajuan teknologi informasi membuka pintu selebar - lebarnya terhadap arus informasi dari dan ke seluruh dunia. Hal ini dapat disikapi secara positif maupun negatif.

Bagaimana kita bersikap agar kemajuan teknologi terutama internet ini dapat menjadikan "alat" kita untuk maju dan berkembang secara aman dan nyaman, sudah pernah disampaikan di sini dan di sini.

Layaknya kehidupan sehari - hari di dunia nyara, kaum perempuan,adalah mahluk istimewa yang mendapat perlakuan khusus dari Allah SWT yang berbeda dengan kaum laki - laki. Misalnya dalam hal aurat, kaum perempuan lebih "tertutup" dibandingkan kaum laki - laki. 

Begitu pula di dunia maya. 

Kaum perempuan harus lebih berhati - hati dibandingkan dengan kaum laki  - laki perihal ancaman - ancaman yang mungkin saja terjadi. Namun hal itu jangan dijadikan hambatan bagi kaum perempuan untuk tidak berkembang beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Justru sebaliknya. Kaum perempuan harus lebih aktif "meng-update" pengetahuan, kapasitas, dan senisiiftasnya terutama untuk menyikapi arus informasi yang tidak bisa dibendung lagi. 

Jika di dunia nyata, kita tidak boleh mengumbar aurat, maka di dnia maya pun demikian.
Jika di dunia nyata kita tidak boleh sembarangan menaruh foto kita di luar rumah, maka di dunia nyata pun demikian. Kita tidak boleh sembarangan mengunggah foto atau video probadi ke internet. Jika di dunia nyata kita tidak boleh mudah percaya pada orang - orang yang belum dikenal dengan baik sehingga memberikan informasi pribadi, maka di dunia maya pun demikian dan malah harus lebih berhati-hati lagi. Konsep kebiasaan di dunia nyata dan dunia maya ini dapat lebih jelas pada tulisan sebelumnya di blog ini tentang aman dan nyaman berinternet. serta tentang etika dan hukum berinternet.

Akhir kata, sebagai umat muslim ahlusunnah wal jamaah yang tidak pernah membenturkan antara logika dan hati atau perasaan, tidak membenturkan antara ikhtiar dan tawakal, maka untuk menyikapi perubahan zaman era digital ini, kita tidak boleh takut dan juga tidak boleh sembrono. Hadapi, Hati - hati, Adaptasi, dan Selalu berserah diri pada Illahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perempuan dan Internet Tulisan kali ini bisa dikatakan sebagai penegasan kembali dari apa yang telah disampaikan pada tulisan - tulisan ...